WARTA 24 LAMPUNG

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Meski Program IFAD Berakhir, Wisata Bahari Kota Kupang Dilanjutkan

Posted by On 17.11

Meski Program IFAD Berakhir, Wisata Bahari Kota Kupang Dilanjutkan

Meski Program IFAD Berakhir, Wisata Bahari Kota Kupang Dilanjutkan

Adi P Pasaribu (berkaca mata hitam) selaku penanggung jawab unit pengelolaan pengetahuan CCDP IFAD tengah berdiskusi dengan pengelola wisata mangrove di Oesapa Barat, Kupang, NTT, baru-baru ini. (Heri S)

Oleh: Heri Soba / HS | Minggu, 26 November 2017 | 07:07 WIB

Bogor â€" Program pemberdayaan masyarakat pesisir (coastal community development project/CCDP) yang diinisiasi Internasional Fund For Agriculture Development (IFAD) di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), segera berakhir. Sejumlah program yang bermanfaat dan berdampak positip terhadap masyarakat akan ditindaklanjuti pemerintah setempat, seperti program wisata bahari.

Wisata mang rove (bakau) di Kelurahan Oeasapa Barat dan Pantai Batu Kapala di Kelurahan Nunhila, Kota Kupang, merupakan dua destinasi yang semakin menarik bagi wisatawan lokal. Penataan awal atas dua lokasi itu masuk dalam CCDP yang sebentar lagi akan berakhir.

Ferdy Dethan bersama masyarakat di Oesapa Barat mengakui semakin merasakan ramainya kunjungan wisatawan. Padahal beberapa tahun silam, kawasan mangrove itu tidak dilirik sama sekali dan hanya mengandalkan tambak yang tidak jauh dari kawasan itu. Selain penataan jalur di sela-sela tanaman mangrove sehingga memudahkan masyarakat yang ingin masuk lebih jauh, pintu masuk di kawasan ini pun mulai ditambah fasilitas warung dan penjualan makanan/minuman. Hal itu untuk mengantisipasi ramainya kunjungan masyarakat, terutama pada akhir pekan.

“Kami mulai mengelola kawasan ini setelah penataan dilakukan IFAD melalui CCDP sejak 2013 lalu. Pengembangan konservasi dan wisata ini ternyata terus menarik banyak peminat. Kunjungan pada har i Minggu bisa mencapai 200-300 wisatawan lokal, sedangkan hari biasa hanya sekitar 50 orang,” katanya baru-baru ini.

Menurut Ferdy, setelah penataan, dia dengan warga sekitar membentuk kelompok untuk mengelola kawasan itu secara bersama. Meskipun CCDP sebentar lagi akan segera berakhir, pihaknya akan terus memperbaiki pengelolaan sehingga semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Beruntung, belum lama ini, Pemkot Kupang melihat potensi wisata itu membutuhkan pembenahan lebih jauh. Alokasi dana APBD yang sudah direalisasikan pada tahun 2017 sebesar Rp 1,5 miliar untuk lokasi mangrove dan pengembangan kawasan Batu Kapala. “Kontribusi Pemkot tersebut sangat membantu penataan kawasan wisata bahari. Masyarakat dalam kelompok mulai berbagi peran untuk mengelola, pengunjung pun semakin tertarik karena fasilitas yang terus dibenahi,” ujar Sekretaris Program Implementattion Unit (PCU) CCD IFAD Robby Adam.

Untuk Batu Kapala atau yang biasa disebut dengan 'Tanah Lot K upang' ini pun semakin ramai dikunjungi masyarakat. Eksotisme bukit karang dan tebing, serta deburan ombak dengan angin yang sejuk menjadikan kawasan ini diincar oleh para remaja.
Kawasan ini sudah lama dikenal masyarakat, namun tidak tertata dengan baik sehingga animo yang mengunjunginya tidak banyak. Setelah penataan oleh kelompok binaan CCDP IFAD, pesona kawasan ini pun mulai mencuat. Jalur-jalur pejalan kaki diperbaiki, rumah monyet (lopo) ditambah, kawasan parkir dibenahi, hingga pantai dibersihkan, membuat kawasan ini pun semakin favorit.

“Masih ada pembenahan lebih lanjut yang sedang kami usulkan kepada Pemkot dan semoga bisa ditindaklanjuti,” kata Edi Laganguru yang juga salah satu pengelola kawasan Batu Kepala.

Untuk diketahui, Kota Kupang termasuk salah satu dari 12 Kabupaten/Kota yang mendapat dukungan proyek CCD-IFAD. Sebanyak 16 kelurahan pesisir di Kota Kupang sudah mendapatkan sentuhan CCDP-IFAD dan secara umum sangat dirasakan manfaatnya ol eh masyarakat. Selain penataan kawasan wisata bahari, masih ada sejumlah program yang sangat membantu masyarakat, termauk perempuan, yang sebenarnya mempunyai potensi tetapi belum dioptimalkan karena bimbingan dan pendampingan yang masih minim.

Sekretaris Eksekutif Project Management Office CCDP-IFAD Sapta Putra Ginting mengatakan bahwa respons Pemkot Kupang atas apa yang sudah dilakuan CCDP-IFAD sangat diperlukan agar potensi ekowisata Kupang bisa dioptimalkan. Bahkan, tidak hanya pemerintah daerah, pihak swasta pun sangat diharapkan untuk mendorong keberlanjutan dari program-program yang sudah dirintis tersebut.

“Inisiasi yang dilakukan melalui CCDP IFAD ini harus diteruskan karena memberikan dampak positip yang cukup baik bagi masyarakat. Secara keseluruhan tercatat 50.000 rumah tangga yang merasakan manfaat dari pendampingan selama ini dan masih berpotensi untuk dikembangkan lagi,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan ARTIKEL TERKAIT
  • Tekan Impor Garam, BPPT Bangun Pabrik di Kupang
  • Ben Kasyafani Boyong Keluarga Liburan ke Padang
  • Garuda Siap Layani Rute Kupang - Dili
  • Dipamerkan, Hasil Kerja Gerakan 1000 di Kepulauan Seribu
  • Konservasi Bakau di Pulau Ngenang, Pertamina Diminta Lanjutkan Pemberdayaan
  • Jaringan Nasional Geopark Indonesia Resmi Dibentuk
  • 1 Geger Gunung Agung 2 Putri Presiden Menikah 3 Suksesi Dini Golkar 4 Seleksi Peserta Pemilu 2019 5 Kelompok Bersenjata Beraksi di Papua
    • Diancam Dipolisikan Kubu Nova nto, Mahfud Tak Ambil Pusing
    • Mampir di Mal, Presiden Jokowi Hebohkan Warga Medan
    • Presiden dan Ibu Negara Manortor saat Ngunduh Mantu
    • Emil Maju di Pilgub Jatim, Tjahjo: Harusnya Bukan Cuti, tetapi Mundur
    • Duel Ala Gladiator, Pelajar SMP di Bogor Tewas
    • Korban Tewas di Masjid 235 Orang, Mesir Berkabung 3 Hari
    • Ibunda Minta Bobby Jaga Nama Baik Jokowi
    • Presiden Jokowi Disambut Secara Adat
    • Marcus/Kevin Tembus Final Hong Kong Terbuka
    • Presiden Blak-blakan soal Persiapan Pesta Adat Mandailing
Sumber: Google News | Warta 24 Pesisir Barat

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »